Home Daerah Sulitnya Mencari Investor untuk Sektor Digital di Daerah, Pilih Bisnis Tren Ketimbang Bisnis Jangka

Sulitnya Mencari Investor untuk Sektor Digital di Daerah, Pilih Bisnis Tren Ketimbang Bisnis Jangka

80
0
SHARE
Sulitnya Mencari Investor untuk Sektor Digital di Daerah, Pilih Bisnis Tren Ketimbang Bisnis Jangka

Kartanews – Pertumbuhan ekonomi digital di berbagai daerah Indonesia dipandang memiliki potensi besar, tetapi realitas di lapangan menunjukkan tantangan serius dalam mencari investor lokal yang serius menanamkan modal pada sektor berbasis teknologi. Sejumlah pelaku usaha digital dan startup di daerah mengungkapkan bahwa mendapatkan pendanaan dari investor lokal semakin sulit, meskipun peluang bisnis digital menjanjikan pertumbuhan jangka panjang yang signifikan. Kondisi ini kontras dengan maraknya minat masyarakat terhadap usaha yang sedang tren dan cepat menghasilkan keuntungan, seperti kuliner, fashion, hingga bisnis hiburan ringan. Menurut pengamatan pelaku usaha digital di Kabupaten Majalengka, investor di daerah cenderung memilih sektor yang terlihat populer dan langsung menghasilkan cash flow, daripada menanamkan modal pada platform digital yang skalanya lebih besar dan butuh waktu untuk profit. Fenomena ini terlihat dari banyaknya investor yang enggan mendukung startup teknologi lokal, padahal banyak dari mereka memiliki ide inovatif yang mampu bersaing di tingkat nasional. “Saya sudah pitching proposal bisnis aplikasi layanan on-demand, namun respon investor lokal lebih memilih membuka usaha kuliner atau franchise yang modalnya besar dan cepat balik modal, tanpa disadari bahwa digitalah yang bisa menekan biaya lebih murah di banding bisnis lain” ujar salah satu founder startup digital di Majalengka. Pakar ekonomi digital menyebut bahwa ketidaktahuan dan kurangnya pemahaman terhadap model bisnis digital sering menjadi alasan utama investor tradisional enggan berinvestasi. Mereka masih mengukur potensi keuntungan dengan cara yang sama seperti bisnis konvensional, sehingga proyek berbasis teknologi seringkali dianggap “terlalu berisiko.” Selain itu, faktor budaya finansial di daerah juga disebut menjadi hambatan. Banyak investor lokal lebih nyaman dengan usaha jangka pendek yang mudah dipahami, daripada investasi berjangka panjang yang membutuhkan strategi pengelolaan dan pemahaman teknologi lebih mendalam. Namun di sisi lain, sejumlah startup menyatakan keyakinannya bahwa peluang digital tetap terbuka luas, terutama dengan tren konsumsi digital masyarakat yang terus meningkat. Mereka berharap dukungan dari pemerintah daerah dan pemangku kebijakan untuk menyediakan fasilitas inkubasi, pelatihan investasi digital, serta program pendanaan yang lebih ramah terhadap sektor teknologi. Dengan semakin berkembangnya ekonomi digital Indonesia, tantangan terbesar kini adalah bagaimana menarik minat investor lokal untuk melihat potensi jangka panjang, bukan sekadar mengikuti tren bisnis sementara yang tampak populer saat ini.